Minggu, 27 Maret 2011

FEMALE DICTIONARY:
nothing, forget it = you better figure out what you did wrong.

are you tired? = please don”t go to sleep, i love talking to you.

i”m okay = hold me tight, i need a shoulder to cry on.

i don”t give a fuck anymore = i still care, but i”m tired of arguing with you.

i”m cold = get a blanket and cuddle with me.

leave me alone = please don”t go.

i love you = tell me you do more.

real friends

Friendship Quotes
Real friends: Take the blame
Fake Friends: Blame you
REAL FRIENDS: DRAGS YOU INTO THE CROWD
Fake friends : Leave you stranded on your own.
Real friends: Cheer you up
Fake friends : Cheer themselves up when your sad
Real friends: Stick together
Fake Friends: Break apart
Real friends: Like this,
Fake friends: Laugh and ignore this
ARE YOU A TRUE FRIEND?

Love Hurts Quotes


Love Hurts Quotes

It hurts to love someone and not be loved in return but what is the most painful is to love someone and never find the courage to let the person know how you feel.

A sad thing in life is when you meet someone who means a lot to you, only to find out in the end that it was never meant to be and you just have to let go.

It’s true that we don’t know what we’ve got until we lose it, but it’s also true that we don’t know what we’ve been missing until it arrives.

Why is it that we don’t always recognize the moment love begins, but we always recognize the moment it ends?

The hardest thing to do is watch the one u love love someone else.

If love is so important to have that one doesn’t want to lose it,why is it when we find true love we often don’t notice it?

Love is like the truth, sometimes it prevails, sometimes it hurts.

There is only one kind of love, but there are a thousand imitations

Why do people have to lose things to find out what they really mean?

When you are in love and you get hurt, its like a cut… it will heal, but there will always be a scar.

Ayah Mengapa Aku Berbeda (2)

Aku masih bisa ingat. Saat terakhir aku berhasil membuktikan kepada semua orang, akan karunia yang Tuhan berikan kepadaku. Tentang bagaimana aku terlahir tuli dan bisu berusaha untuk bersyukur akan kehidupan yang aku miliki. 5 tahun sudah berlalu dan kini aku telah menjadi gadis remaja yang tumbuh dan semakin mengerti arti perjuangan hidup. Agnes, sahabat yang telah melakukan beberapa kesedihan dalam hidupku, ia memutuskan pindah sekolah setelah kejadian panggung itu. Aku tidak pernah berharap itu semua terjadi. Tapi ia pergi…

Sahabat-sahabat Agnes yang dulunya membenciku, mereka tidak lagi mempermasalahkan kehadiranku di klub musik sekolah. Tapi mereka tidak pernah bicara padaku. Kalau boleh jujur, aku merasa sangat kesepian berdiri diantara mereka. Tak ada yang mau bicara padaku, kalaupun ada, hanya beberapa orang yang mau menerima aku sebagai gadis cacat diantara anak-anak normal lainnya. Tapi akhirnya aku melewatkan bangku sekolah menengah pertama dan akhirnya berpisah dengan semuanya karena sekolahku tidak memiliki tingkatan sekolah umum.

Kondisi ayahku membaik pasca serangan jantung itu. Ia kembali ke rumah dan menghabiskan waktunya hanya dengan beristirahat. Kami beruntung memiliki tunjangan pengabdian ayahku selama bekerja di perusahaan yang dulu ia bernaung. Aku tau, kehidupan semakin sulit karena keuangan kami tidak hanya bisa diandalkan dengan uang pensiun ayah. Aku ingin bekerja tapi usiaku masih 16 tahun. Tidak akan yang mau menerimaku sebagai pekerja sampingan terutama karena aku cacat.

Aku sekolah di tempat yang baru dan tak begitu jauh dari rumahku. Cukup berjalan kaki sekitar 15 menit lamanya. ketika aku, pertama kali menginjak ruang kelasku. Aku berharap pada Tuhan agar semua teman-teman baruku ini mau menerimaku. Ya semuanya, menerima tapi sebelum mereka menyadari kalau aku tuli. Aku bisa merasakan mereka membicarakan aku walaupun berbisik-bisik. Aku hanya tersenyum dan akhirnya mendapatkan satu teman yang pria yang agak gemuk bernama Hendra. ia memakai kacamata yang bulat dan pipinya yang tembem terasa lucu ketika tertawa karena akan memerah seperti tomat.

Ia sahabat baruyang mau menerima dan belajar untuk bicara perlahan denganku, kami duduk berdua dan hanya berdua di kelas ini yang bicara. Aku sudah biasa dengan sikap seperti ini, terlebih ketika Hendra bertanya padaku lewat tulisan di buku agar tidak terdengar yang lain.
“ Angel, apa kamu tidak merasa mereka menunjukkan sikap aneh?”
“ Ya, aku merasa dan tidak masalah..” tulisku.
Sebagian siswa di kelas mungkin bukan cobaan terberat bagiku, sampai akhirnya aku baru menyadari senior di sekolahku. Mereka mulai mencari masalah padaku, saat aku berjalan dan mereka berteriak padaku. Aku tidak mendengar. Mereka berpikir aku sombong dan tidak hormat pada mereka. 3 orang wanita yang tak kukenal mendekatiku.
“ kamu budek ya? Ga denger aku panggil kamu?”
Aku ingin jujur tapi aku tidak bisa katakan saat ini. Aku hanya terdiam, mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh. Lalu Hendra muncul, ia menolongku.
“ Suruh teman kamu untuk menghormati senior!! Dipanggil pura-pura budek!!”
Hendra terdiam membangunkan aku, lalu bertanya mengapa tidak kau katakan saja keadaanku sehingga mereka paham aku bukan tidak mendengar panggilannya. Aku hanya tersenyum dan berkata cepat atau lambat mereka akan tau. Itu lah hari pertamaku di sekolah dan aku tau akan banyak cobaan yang akan datang padaku. Di sekolahku ini, klub bermusik hanya dikhususkan untuk angkatan kedua, dan siswa baru tidak akan bisa ikut hingga tahun kedua.
Saat pulang sekolah, aku berpikir untuk mencari buku pelajaran yang baru saja dikatakan oleh wali kelasku. Aku pergi ke toko buku, tanpa aku sadari saat aku pergi ke dalam toko buku tanpa membawa dompetku yang tertinggal di rumah sejak tadi pagi. Aku memang ceroboh hari ini. Ketika sudah mendapatkan buku yang aku mau dan saat itu di meja kasir, aku sangat panik karena tidak memiliki uang untuk membayar. Kasir perempuan itu melihatku dengan aneh dan seperti menunggu.
“ Totalnya 105.000 Rupiah?”
Aku tidak bisa bicara, sehingga aku terdiam. Seseorang pria yang usianya tak jauh dariku, muncul seperti pangeran.
“ Ini temanku, biar aku yang bayar” kata pria itu, aku melihatnya dengan kebingungan. Ia memberikan plastic berisi buku yang kubeli padaku, lalu berkata.
“ Aku sudah melihat kamu sejak tadi, kamu tidak membawa dompet kamu ya..”
Aku menganggukkan kepalaku, tak kupercaya pria yang berdiri didepanku ini begitu tampan. Kami berjalan hingga pintu keluar. Aku bingung bagaimana cara menyampaikan ungkapan terima kasih dan mengganti biaya yang ia keluarkan untuk belanjaanku.Aku menuliskan di kertas dengan merobek buku saku kecil yang selalu kusiapkan untuk orang yang tak mengertiku bicara dan ia melihatku dengan aneh.
“ Bagaimana caranya aku membayar kamu? terima kasih atau pertolongan kamu.” tulisku dan Ia melihatku dengan aneh, tapi mulai menyadari ada yang aneh denganku, hatiku terasa berat untuk mengatakan kalau aku cacat hingga akhirnya aku tak kuasa menuliskan keadaanku.
“ Ooo begitu, baiklah, namaku Ferly, kamu bisa mencari aku di café depan tempat aku bekerja sebagai pelayan kopi, lihat toko berlogo wanita itu bernama café cup.”
“ namaku Angel. Baiklah, aku besok akan datang lagi ya..”
Ia tersenyum padaku, aku pun pergi. Aku tidak tau apa yang harus aku katakan sebagai tanda perpisahan, tapi ia sungguh berkesan pada pandangan pertamaku.

***

Keesokan harinya, aku tidak pernah menduga kalau seisi sekolah sudah tau keadaanku yang cacat. Wali kelasku memang tidak sempat berbicara dengan anak-anak di kelas tentang keadaanku. Tapi sepertinya setiap aku melangkah ke kelasku, semua menatapku dengan aneh.Sampai akhirnya aku duduk di kelas dan Hendra langsung katakan padaku kalau semua sudah tau kondisiku. Aku tau Hendra cemas dan aku mencoba tegar dan berkata dengan begitu bukannya lebih baik untukku sehingga tidak ada lagi yang bisa kututupi.

Ketika jam istirahat sekolah, aku teringat akan roti bekal isi selai kacang yang ayah berikan padaku. Ia memasukkan kotak bekal itu didalam tasku. Aku ingin menyantapnya di taman sekolah bersama Hendra. karena disana konon banyak sekali siswa yang bermain basket dan aku ingin melihatnya. Saat aku terduduk dengan tenang disudut lapangan. Kakak seniorku yang kemarin mendorongku, muncul. ia melihat kotak makananku.

“ Aku baru tau kalau sekolah ini mengizinkan anak cacat untuk sekolah..” katanya kepada tiga orang sahabat disampingnya.
Aku tak berani menatap matanya, sedangkan Hendra disampingku menatap mereka.
“ Hei gendut. Suruh teman kamu kesini, aku ada tugas untuk mereka.”
“ Dia sedang makan..”
“ Aku tidak peduli, cepat..”
Hendra tak kuasa melawan, ia memegang pundakku. Kakak kelas itu memanggilku dengan jarinya seolah memanggil seekor anjing di jalan. Aku mendekati.
“ Bisa ngerti apa yang aku omong kan? Walau kamu tuli, harusnya kamu bisa mengerti apa yang aku omongin dari mulutku” katanya dan aku menganggukan kepala.
“ Kamu lihat di tengah lapangan itu, ada pemain basket dengan tulisan angka 22. Dekatin dia, dan suruh dia kemari..”
Aku menatap pria yang ia maksud dan aku hanya terdiam.
“ Buruan..” kata kakak kelasku dan aku terdiam tak ingin bergerak.
Satu diantara temannya yang bertubuh agak besar, lalu menarik tanganku. Hendra ingin menolongku tapi tak kuasa karena dua orang perempuan lain mencegahnya. Mereka mengacam akan memberikan hal yang lebih buruk bila ikut campur dengan urusan mereka. Aku tau aku tak berdaya ketika mereka menyeretku ke pintu gerbang basket.
“ Ingat, ini aku lakukan sebagai penegasan rasa hormat kamu kepada senior, namaku Maya, harusnya kamu tau, aku disini paling berbahaya..”
Aku terdorong hingga kedepan pintu gerbang dan beberapa orang sedang bermain basket. Aku berjalan perlahan dan mendekat kepada pria itu yang sedang bermain, tapi tanpa kusadari sebelum itu terjadi sebuah bola basket seberat 1/2kg menimpa kepalaku, aku tersentak kesakitan. Beberapa orang terdiam, Maya berlari padaku. Ia seperti berbeda,
“ Maaf, adik kelasku ini tuli..” kata Maya yang bersikap baik padaku.
“ Kamu gapapa..” kata pria dengan nomor 22 di bajunya.
“ Tentu dia tidak apa-apa.. aku akan mengurusnya..” kata maya.
Aku dapat merasa ada luka lecet di keningku, maya menarikku dan langsung berubah sikap ketika semua pemain basket itu tak melihat kami. Ia hanya bilang tugasku sudah selesai, jadi aku bisa merasa kalau aku tumbal untuk dia menarik perhatian orang itu. Aku tau aku tidak bisa berbuat apa-apa selain merawat lukaku sendiri. Hendra sudah ada di kelas dan dia melihat bagian keningku, aku bilang padanya tidak perlu melapor ke kepala sekolah karena ini hanya masalah kecil.

Aku pulang dengan sedikit luka yang kubersihkan dengan air tapi bekas goresan merah masih terlihat saat aku berkaca di cermin. Hari ini aku ingin mengembalikan uang pinjaman pembelian buku pada Ferly. Saat aku tiba di tempat yang ia bilang, aku melihatnya sedang berkerja sebagai pelayan. Aku tidak bisa memanggilnya sehingga aku hanya terdiam hingga salah seorang pelayan mendekatiku dan menawarkan aku tempat bila ingin menikmati hidangan di café itu.
Aku hanya terdiam, lalu sepertinya Ferly melihatku. Ia mendekatiku. Dengan cepat pelayan itu pergi dan membiarkan Ferly melayaniku. Ia melihatku dengan aneh, menanyakan luka di keningku, aku tersenyum dan menuliskan di kertas kalau aku hanya terjeduk pintu. Ia tertawa dan menawarkan sebuah kopi hangat. Aku pun menerimanya dan satu tempat telah ia sediakan untukku. Saat aku terduduk, aku baru menyadari kalau café ini memiliki piano yang indah di depannya. Aku rasanya ingin sekali menyentuh piano itu dan mendekatinya.
Saat aku menyentuh tooth piano itu, terasa lembut dan sepertinya dibersihkan setiap saat, tiba-tiba pundakku tersentuh oleh tangan dan aku melihat itu adalah Ferly.

“ Kamu sepertinya tertarik dengan piano ini?” tanyanya dan aku menganggukan kepala, lalu ia bertanya lagi “ kamu bisa main piano?” dan aku melakukan anggukan kepala yang sama. Dan pertanyaan terakhirnya “ Ayo coba main, aku jadi pengen denger”. Aku langsung mengambil posisi terduduk untuk merasakan piano indah itu tanpa basa basi.
Ketika aku selesai bermain, Ferly bertepuk tangan.ia memujiku dan berkata aku sangat berbakat. Mendengar semua itu, aku sangat senang. Saat aku sadar kalau tidak bisa bicara banyak padanya karena ia harus berkerja, aku menitipkan selembar kertas padanya dan menaruh uang yang ia pinjamkan padaku diatasnya. Lalu aku pergi. Saat aku berjalan pulang, ia mengejarku.
“ Kenapa pulang begitu saja.”
“ Karena aku tidak ingin menganggumu bekerja.”
“ Bosku ingin bicara padamu, sepertinya ia ingin memberikan kamu pekerjaan santai.”
Aku tidak pernah menduga kalau ternyata arunan musik yang aku mainkan membuat bos pemilik café memberikan aku kesempatan bekerja partime disana, aku bisa bekerja setiap pulang sekolah hingga pukul 4 sore, aku rasa ayah tidak akan melarangku untuk bekerja, karena tentunya ini aku lakukan dengan kesenangan tersendiri. Aku sudah bisa masuk bekerja besok, dengan gaji yang lumayan untuk ukuran seorang pelajar sepertiku. Yang perlu aku lakukan hanya cukup memberikan suasana indah di café itu.
Setelah hari itu, aku bekerja sambil menikmati suasana baru dalam hidupku, disini aku merasa di hargai sebagai manusia kebanding di sekolahku. Bila di sekolah, aku hanya seperti badut sirkiut yang hanya boleh terdiam tanpa bebas melakukan apapun, disini aku bebas melakukan apapun dengan jariku. Semua mendengar dan merasakan apa yang aku lakukan, setidaknya aku merasa bahagia. Tapi ada yang lain yang membuatku merasa aneh, semakin hari, aku merasa ada yang indah di perasaan hatiku, terutama saat menatap Ferly.
Ia pria yang baik dan banyak bicara padaku dengan dua lesung pipi yang manis. Aku memang tidak pernah tau latar belakang keluarganya, ia hanya bicara tentang hal yang bisa kami lakukan bersama-sama. Ia kadang membuatkan aku segelas susu coklat yang manis, sambil tersenyum. Itu membuatku bertanya-tanya.
“ Apakah ini yang dinamakan cinta?” Tanyaku dalam hati.
Kedekatan kami dalam satu pekerjaan, membuat aku rasanya tidak ingin jauh dari tempat ini. Aku selalu menunggu jam bunyi sekolah selesai, lalu pergi bersalin pakaian.Dan datang hanya untuk melihatnya. Keadaan itu berjalan baik hingga suatu ketika. Maya dan beberapa temannya datang ke Café dan melihatku ada disana. Tanpa aku sadari, kalau mereka ternyata mengenal Ferly.Hal pertama yang ia tanyakan padaku

“ Gadis cacat sedang apa kamu disini?” Tanya maya
Belum aku menjawab, Ferly datang, dan maya langsung memeluknya.
“ Ferly, maaf ya!! Aku sudah lama tidak sempat kesini, sebab aku sibuk.. “
“ Gapapa. Tumben kesini..”
“ Lagi jalan-jalan ke mal sama teman-teman, eh tau-taunya ketemu sama adik kelasku ini? Sedang apa dia disini?”
“ Loh kalian sudah saling kenal ya..”
“ Yaiyalah, mana ada di sekolah kami yang tidak kenal gadis cacat ini..” celetuk teman Maya.
Maya menyipitkan matanya ke temannya yang bicara dan langsung mengatakan hal yang baik tentangku.
“ Tentu saja, aku selalu bersikap baik kepada adik-adik kelas, bukan begitu Angel?”
Aku melempar senyum dan aku tau sebaiknya aku pergi membiarkan Ferly bersama mereka. Saat itu aku merasa bingung, melihat Maya begitu mesra pada Ferly. Bahkan mereka berpegangan tangan. Aku bermain musik sambil menatap mereka secara sembunyi-sembunyi dan perasaanku sungguh tidak tenang hingga Maya pergi dari café itu. Ferly mendekatiku dan bicara padaku.
“ Maya bilang padaku, kalau kamu perlu bantuan di sekolah, kamu bisa minta tolong padanya, karena ia kan menolong kamu..” kat Ferly dan aku tersenyum.
“ Kalau boleh tau, kalian ada hubungan apa?” tanyaku dalam sebuah kertas dan Ferly seperti bingung.
“ Aku dan dia hanya teman baik. kami sudah kenal cukup lama. Ceritanya panjang.. nanti kapan-kapan aku ceritakan padamu. Aku sudah cukup lama bicara padanya hari ini dan harus bekerja. Ok?”
Ferly dan aku berjanji pulang bersama untuk melihat toko buku. Saat kami disana, ia melihat sebuah gelas dan berisikan piano kecil, ia bilang padaku kalau gelas itu sangat lucu. Lalu aku Tanya padanya, “kenapa kamu tidak beli kalau lucu”. Aku akan beli pada saat nanti kalau sudah gajian, karena aku harus menabung dulu untuk cita-cita dan impianku. “ apa impianmu?” tanyaku dan ia bilang, “ aku ingin menjadi pilot dan aku harus menabung untuk kuliahku kelak..”
Aku tersenyum dan hari itu aku pulang dengan bayangan-bayangan kejadian di benakku tentang impian Ferlu menjadi pilot, tak bisa kubayangkan wajahnya yang tampan dengan seragam pilot. Tapi ada pula yang menganggu pikiranku, tentang kedekatan maya dan Ferly. Aku bingung perasaan ini, apakah ini yang disebut cemburu??. Kami pulang dan berpisah di busway terakhir sebelum akhirnya aku melihat senyumnya padaku untuk terakhir dan ia membuatku terharu karena sudah bisa mengucapkan salam perpisahan dengan bahasa tangan.

***

Pagi itu, saat pulang sekolah. Aku hendak pergi menuju tempat kerjaku. Tanpa aku duga, Maya dan teman-temannya sudah menungguku di depan kelas. Ia menatapku dengan tajam. Ia menarikku ke sudut ruangan. Tak ada yang melihat kami. Ia memintaku untuk berhenti bekerja di café itu karena ia tidak senang melihatku dekat dengan Ferly dan info itu ia dapatkan dari teman-temannya yang melihatku bersama Ferly di mal. Aku terdiam, ancaman pertamanya adalah mendorong tubuhku hingga terjatuh lalu menarik kerah bajuku.

“ Akan ada yang lebih buruk lagi dari ini bila aku masih melihatmu disana..”
Aku terdiam dan menahan tangisku.Aku tau aku tidak berdaya melawan ancamannya. Aku berjalan tanpa arah menuju rumahku. Ayah melihatku pulang lebih awal dan merasa aneh. Ia bertanya padaku mengapa tidak bekerja seperti biasanya. Aku tersenyum dan berkata kalau aku sedang tidak enak badan. Hari itu aku menahan hatiku untuk bertemu Ferly. Dan aku tak tau kapan lagi aku bisa menuju kesana karena bila aku kesana aku akan menjadi lebih buruk dari hari ini.
Seminggu kemudian. Aku tidak lagi pernah menginjakkan kakiku di café. Tiba-tiba saat aku berjalan pulang. Ferly ada didepan sekolahku. Ia menggunakan motornya. Mendekatiku, aku merasa aneh.
“ Kamu kemana aja? Kok tidak pernah muncul di café lagi..”

Aku terdiam lalu, dia memberikan helm satunya kepadaku dan menyuruhku untuk pergi dengannya. aku ragu tapi akhirnya tak kuasa ketika ia menarik tanganku. Tanpa aku sadari saat kami pergi, salah satu teman maya melihatku. Kami pergi ke sebuah taman tak jauh dari sekolahku, berhenti dan terduduk. Ferlu menatapku. Ia bertanya banyak hal, apakah aku sedang sakit? Ataukah aku sedang bermasalah. Aku tersenyum dan berkata kalau aku tidak apa-apa, aku hanya bilang kalau banyak tugas sekolah yang harus keselesaikan sehingga tidak mungkin bisa membagi waktu.
Ia memberikan aku sebuah amplop yang dititipkan oleh bos, itu adalah gaji pertamaku. Aku tersenyum dan merasa bahagia karena inilah uang pertama yang kuhasilkan dengan keringatku. Lalu ia berkata.

“ Besok datang ya, aku ulang tahun. Dan aku ingin kamu ada di café.. bos ingin merayakan bersama anak-anak yang lain.. seperti biasa saat kamu selesai pulang sekolah.. berjanjilah padaku..”
Aku tersenyum dan berjanji pada Ferly untuk datang. Setelah itu ia mengantarkan aku pulang, untuk pertama kalinya seorang pria turun bersamaku di depan rumahku. Dan aku merasa bahagia. Pesan terakhirnya padaku “ Ceritakanlah apapun yang menjadi masalah di hatimu, karena aku siap mendengarnya.”. aku tersenyum dan berjanji untuk bercerita bila memang sudah saatnya. Ferly pulang dengan salam tangannya yang ia pelajari sendiri kepadaku dan aku membalasnya, sepertinya kami sudah menjadi tulis saja. Menjelang malam aku bergegas untuk mencari kado terbaik untuknya. Tak kusangka gaji pertamaku kubelikan untuk orang yang kusukai.

Aku pergi ke mal dimana saat itu aku dan Ferly pernah pergi ke toko buku dan melihat sebuah benda unik, sebuah sebuah gelas cantik yang berisi piano kecil di tengahnya, jadi bila kita menatap dari luar terasa seperti sebuah piano dalam kotak kaca. Aku akan membelikan ini untuk Ferly sebagai kado ulangtahunnya. Sepulang dari mal, aku membungkusnya dengan rapi dan menuliskan kalimat-kalimat ulang tahun sewajarnya, aku akan membawa kado itu esok dan sepulang dari sekolah.

Keesokan harinya saat aku hendak berangkat menuju café, Maya dan teman-temanya menyeretku ke ruangan volley indoor sekolahku. Mereka mengajakku ke dalam ruangan penyimpanan bola, dan menatapku dengan tajam. Menghinaku sebagai gadis tidak tau malu.
“ Kamu itu sudah cacat, kenapa sih ga jadi orang cacat aja hidupnya, kenapa sih mesti gatel gangguin Ferly, dia itu punya aku tau? Teriak Maya.
“ Kalau diajak dengan mulut saja kamu tidak mau dengar, lebih baik mulut kamu ini aku buat cacat sekalian seperti telinga kamu ya..” kata maya sambil mengambil bola basket dan melemparkan nya ke wajahku. Hidungku berdarah dan tak bisa berbuat apa-apa karena semua teman-temannya memegang kedua tangan dan badanku. Aku berteriak kesakitan dan tak kuasa menahan sakit,darah di hidungku yang menetes tak membuat mereka kasihan.
“ Kamu tau, aku tidak suka dengan wajahmu sejak kamu pertama kali di sekolah ini, aku tidak ingin kamu ada disekolah ini lagi, sudah masih mending diterima di sini, sekarang mau merebut orang yang aku suka, kamu benar-benar gadis cacat tidak punya malu.”
Seseorang dari mereka mengambil tasku dan memeriksa kalau aku memiliki sebuah kado. Maya membukanya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. “ Kado apa ini?” tanyanya. Aku terdiam.
“ Percuma gadis cacat tidak akan bisa bicara.. buka saja.” Sebut temannya.
Ia melihat tulisan tanganku dan surat kado itu kutulisan nama Ferly. Maya langsung teringat kalau hari ini adalah ulang tahun Ferly.Ia mengatur rencana saat itu juga. Mereka mengurungku di ruangan sempit itu tanpa cahaya dan pergi membawa kadoku. Aku berteriak-teriak tak ada yang mendengar. Dan maya pun pergi ke pesta ulang tahun Ferly.Aku menangis tak ada yang bisa kulakukan, aku sudah berjanji untuk datang, kini semuanya jadi berantakan, hidungku kesakitan dan darah terus mengalir.

Maya tiba di ulang tahun Ferly, ia membawakan kado milikku padanya. Ferly bingung, karena ia yakin pesta ini hanya untuk karyawan kafe tanpa undangan dari luar termasuk Maya. Ia meminta Ferly membuka kado itu dan betapa bahagianya Ferly karena kado itu adalah barang yang ia sukai. Maya memberikan ciuman padanya. Sedangkan aku, aku merasa kehabisan nafas dalam ruangan tanpa oksigen. Saat aku merasa akan mati, seseorang muncul, seorang pria yang tak pernah aku duga, ia adalah pria berpakaian 22 yang dulu sempat diminta Maya untuk berkenalan.
Ia banyak bertanya padaku dan melihat lukaku, ia membawaku ke ruangan pengobatan. Namanya Martin, ia bertanya padaku tentang keadaanku, tapi aku tidak pernah bercerita padanya dan tidak ingin ia tau keadaanku dilakukan oleh Maya. Aku langsung meminta izin pulang, aku merasa sudah membaik. Ia menatapku.

“ Kalau kamu ingin cerita, kamu tidak usah ragu, ceritakan masalahmu padaku..” kata Martin.
Aku tersenyum dan pergi. Berjalan dengan air mata karena kehilangan banyak hal di hari ini, terutama untuk memberikan hadiah kepada Ferly. Hidungku terasa sakit dan ketika aku berjalan menuju gerbang pintu rumahku, tak jauh dariku sebuah motor berhenti. Ferly muncul didepanku. Ia Tanya padaku, mengapa aku disini. Aku menangis dan memeluknya, ia sadar sejak awal ada yang tidak beres dengan semua ini, hari sudah sore dan aku tidak muncul dalam pestanya dan ia pun mencoba kerumahku dan ayahku bilang aku tidak ada dirumah dan ia sudah menungguku 2 jam disini.

“ Kamu kenapa menangis?” kata dia sambil menghapus air mataku. Aku tidak bercerita sesungguhnya selain melukiskan gambar hati dengan tanganku di dadanya,
“ Apa ini Angel?” Tanya dia. Gambar itu adalah ucapan selamat ulangtahunku padanya. Ia tersenyum dan mengajakku untuk pergi minum eskrim bersama.
Aku pun mengurungkan niatku pulang dan pergi bersamanya, kami mencoba eksrim di sebuah tempat eskrim didepan taman. Bercanda ria, ia menatapku dengan bahagia dan akhirnya aku bertanya padanya tentang impian dan ia bilang, ia ingin menjadi pilot dan terbang di angkasa. Ketika itu ia bertanya balik dan aku menjawab,
“ Aku hanya ingin menjadi orang yang berarti bagi orang lain, dengan keadaanku yang tuli dan bisu, hal terbaik dalam hidupku adalah membuat orang bahagia.”
“ Kamu sudah berhasil..” katanya dan aku terdiam.
“ Kamu sudah membuatku bahagia dengan melihatmu..” kata Ferly dan aku tersipu malu. Dan tiba-tiba ia mengatakan sesuatu padaku
“ Angel, kalau kita harus berpisah, maka simpanlah aku dalam hati. Tapi kalau kita harus bersama, kita harus bersama untuk selamanya.”

Aku terhenyut dengan kalimat-kalimatnya, ntah apa yang ia maksud dengan selamanya yang pasti aku berharap itu kelak terjadi. Malam itu begitu indah, walau aku kehilangan kado yang ingin kuberikan padanya. Kami melewatkan hingga larut sebelum aku pulang dengan tersenyum dan ayah melihatku. Aku tak bicara apa-apa selain memasukin kamarku untuk bercermin. Melihatku wajahku yang memar dan tapi rasa sakit itu hilang karena hari ini.


***

Aku pikir aku akan menjadi gadis yang bahagia tapi setelah hari itu, Ferly tidak pernah lagi muncul. aku bingung, seminggu sudah aku bekerja tanpa ada dia. Bos pun tidak mengatakan apapun padaku selain bilang kalau ferly cuti untuk urusan keluarga. Aku terus menunggu hingga tak sadar waktu telah berjalan sebulan lamanya. Ada rasa kehilangan dan sedih ketika aku bermain musik tanpanya. Hingga akhirnya tak terasa 2 bulan berlalu. Bos memberikan aku sebuah surat yang dikirimkan oleh Ferly untukku.
Aku membacanya. Betapa sedihnya aku, ketika ia bilang ia akan pergi melanjutkan sekolah pilotnya di luar negeri, ia meminta maaf padaku tidak sempat mengucapkan selamat berpisah padaku.Aku membacanya di taman sekolah sambil berlinang air mata. Martin, pemain basket. Mendekatiku. Ia melihat air mataku. Ia mendekat dan aku terkejut, ia bicara dengan bahasa tangan. Ia bertanya padaku kenapa aku menangis. Lalu aku bertanya balik bagaimana ia bisa bicara dengan bahasa tangan. Ia tersenyum kalau neneknya dulu juga sama sepertiku dan ia sempat belajar.
Aku tersenyum, akhirnya di sekolah ini ada yang bisa mengerti apa yang kubicarakan selain Hendra. sayangnya aku tau, aku harus menjaga jarak dengan Martin kalau tidak ingin menjadi sasaran Maya. Banyak mata-matanya yang akan memperhatikan aku bila bersama Martin, sehingga aku pun tidak bisa lagi mendekat pada Martin. Suatu ketika, saat aku bekerja, bos terlihat tegang, ia mengatakan sesuatu ketika mendengar suara telepon dari orang yang tak asing baginya..

“ Itu telepon dari ibu Ferly, untuk kita semua. Berita duka kalau Ferly mengalami kecelakaan motor dan meninggal..”
Tasku terjatuh dari tanganku, air mataku menangis. Aku berlari tanpa arah. Aku terdiam disudut jalan diantara keramaian.Menangis, seperti seorang anak kehilangan ibunya. Martin tiba-tiba muncul padaku, ia mendengarkan semua kesedihanku, ia memintaku kuat dan aku memintanya untuk mengantarkan aku ke tempat melayat Ferly. Ia bersedia menemaniku. Saat aku datang, aku tak mampu lagi melangkahkan kakiku ketika melihat wajah ferly terpampang diatas peti tempatnya beristirahat. Aku tau tidak ada yang bisa aku lakukan selain, melakukan sesuatu untuk terakhir baginya.
Aku mendekati sebuah meja piano yang digunakan untuk mengiringi lagu-lagu doa untuk mengenang Ferly. Aku meminta izin untuk melakukan hal terakhirku kepada Ferly. Seseorang yang pergi tanpa sempat aku ucapkan perpisahan bahkan kejujuran di hatiku kalau aku memang mencintainya. Walau aku terbatas oleh keadaan.

Ayah Mengapa Aku Berbeda (1)

Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh kesedihan,

Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.

“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku memperhatikanya dengan heran,

“ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.

“ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan.

“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini, mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”

Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang panggung.

“ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”

Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.
 

Sabtu, 26 Maret 2011

friendship ^^






Love Quotes













Shontelle - Impossible

i remember years ago
someone told me i should take
caution when it comes to love
i did, i did
and you were strong and i was not
my illusion, my mistake
i was careless, i forgot
i did
and now when all is done
there is nothing to say
you have gone and so effortlessly
you have won
you can go ahead tell them

tell them all i know now
shout it from the roof top
write it on the sky love
all we had is gone now
tell them i was happy
and my heart is broken
all my scars are open
tell them what i hoped would be
impossible, impossible
impossible, impossible

falling out of love is hard
falling for betrayal is worst
broken trust and broken hearts
i know, i know
thinking all you need is there
building faith on love is worst
empty promises will wear
i know (i know)
and know w hen all is gone
there is nothing to say
and if you're done with embarrassing me
on your own you can go ahead tell them

tell them all i know now
shout it from the roof top
write it on the sky love
all we had is gone now
tell them i was happy
and my heart is broken
all my scars are open
tell them what i hoped would be
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible

ooh impossible (yeah yeah)

i remember years ago
someone told me i should take
caution when it comes to love
i did

tell them all i know now
shout it from the roof top
write it on the sky love
all we had is gone now
tell them i was happy (i was happy)
and my heart is broken
all my scars are open
tell them what i hoped would be
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible
impossible, impossible

i remember years ago
someone told me i should take
caution when it comes to love
i did